Bonus Mengikuti Kursus

Cerita Dewasa - Perusahaan di tempat saya bekerja pada awalnya adalah penyedia jasa yang bergerak di bidang bimbingan belajar di Kota Y.
Namun seiring dengan kemajuan yang dicapai, maka dicoba untuk mengembangkan sayap pada bidang-bidang lain seperti super market, sekolah tinggi ekonomi, kursus komputer, travel and tour, bahkan membuka rumah makan, yang semakin hari semakin berkembang dan tidak hanya menempati satu gedung namun tersebar di berbagai tempat dan mempunyai kantor cabang dikota-kota lain di Indonesia.

Saya bekerja sebagai staf di bidang administrasi perusahaan dan menangani arsip-arsip perusahaan yang semakin hari semakin menumpuk saja. Seiring dengan perkembangan tersebut diadakanlah training kearsipan bagi karyawan-karyawan yang menangani arsip-arsip perusahaan supaya ada kesatuan persepsi dan model yang akan dipakai dalam penanganan arsip, sehingga memudahkan dalam pencarian kembali arsip yang telah lalu, maupun menyeleksi arsip-arsip yang akan dimusnahkan supaya tidak memenuhi gudang.

Ketika saya ditugaskan untuk mengikuti kursus tersebut, saya langsung menyatakan setuju. Saya merasa beruntung ditunjuk untuk kursus kearsipan tersebut, karena selain tidak masuk kantor juga bisa "refreshing" menyegarkan badan dan otak yang sehari-hari hanya bergelut dengan kertas dan kertas. Kursus diadakan selama 2 minggu dan menginap di subuah penginapan di kawasan Kaliurang, suatu tempat rekreasi yang sejuk di kaki Gunung Merapi. Kursus kearsipan diikuti sekitar 30 orang laki dan perempuan, umurnya berkisar antara 22 sampai 36 tahun, jadi masih muda-muda dan penuh semangat. Ada yang sudah berkeluarga, ada juga yang baru punya pacar.

Walaupun kami dalam satu group perusahaan, namun karena jarang bertemu, terlebih yang dari luar kota, ya kebanyakan dari kami belum saling kenal, hanya satu dua orang saja yang sudah saling kenal. Hari pertama kursus diadakan acara perkenalan dari masing-masing peserta untuk menyebutkan nama, alamat, asal sub perusahaan/kerja dibagian apa, dan sebagainya sampai soal status keluarga, anak serta suami ataupun istri. Setelah istirahat siang, untuk lebih dapat menghafal nama serta lebih kompak dalam kerjasama peserta diadakan kegiatan dinamika kelompok dan dilanjutkan acara Outward Bound selama 2 hari penuh.

Dalam dua hari tersebut hampir semua peserta sudah saling kenal satu sama lain, bahkan ada yang tampak akrab. Ketika acara istirahat siang mereka sudah pada ngobrol satu sama lain, saling curhat, saling mencari "jodoh" masing-masing. Dan pada malam kedua itu kelihatannya mereka sudah saling akrab bahkan hampir dari semua peserta pada malam itu sesudah pelajaran selesai kira-kira pukul 21. 30 WIB mereka memutuskan untuk jalan-jalan keliling sekitar penginapan sampai ke Gardu padang untuk melihat pemandangan alam di sekitar Gunung Merapi malam hari.

Dan sungguh menakjubkan, pada malam terang bulan itu Merapi terlihat indah, gagah, namun menyimpan rahasia alam yang tak dapat diraba oleh panca indera. Dalam perjalanan malam itulah saya mulai menemukan "jodoh" untuk diajak bincang-bincang secara dengan dekat atau curhat bahasa populernya. Sebut saja teman saya tadi Wiwik. Masih muda sekitar 25 tahun, belum kimpoi katanya, namun sudah punya pacar. "Pacarku itu lho Om (begitu dia panggil saya) yang antar aku ke sini tempo hari".

"Oh, yang antar kamu tempo hari to Wuk" sahutku.
Hari-hari selanjutnya semakin akrab aku memanggil dia dengan panggilan Wuk, dan dia memanggilku dengan Om.
"Kok, panggil aku Om, gimana sih?" godaku.
"Gini Om, soalnya dari perkenalan kemarin, Om umurnya sudah sebaya dengan umur Pak Lik atau Paman saya, jadi ya kupanggil saja Om. Nggak apa-apa kan?" sahutnya.
"Oh, begitu to, oke deh" sahutku pula.

Pada Ju'mat pertama, saya coba ajak Wiwik untuk jalan-jalan setelah akhir pelajaran. Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 22. 00 WIB.
"Wuk, belum ngantukkan?" tanyaku.
"Belum Om, ada apa?" Wiwik balas bertanya.
"Yuk, kita jalan-jalan ke gardu pandang!" ajakku.
"Siapa aja yang akan kesana Om?" tanyaknya lagi.
"Aku nggak tahu, aku hanya ajak kamu jalan-jalan malam ini, kan besok malam Minggu diberi kesempatan pulang ke rumah masing-masing, jadi ini kesempatan malam terakhir minggu pertama untuk jalan-jalan. Kalau yang lain ada yang ikut aku nggak keberatan, kalau tak ada yang ikut pokoknya aku ajak kamu aja, mau kan?" aku coba merayu.

"Gimana ya Om?" dia agak ragu menjawab.
"Aku sih sebenarnya juga ingin jalan-jalan, tapi kalau hanya kita berdua gimana, ya, aku tak enak sama teman-teman yang lain", lanjutnya.
"Ya nggak usah dipikirkan, tuh mereka sudah membuat kelompok-kelompok sendiri!" sahutku pula.
Wiwik diam sebentar dan akhirnya memutuskan mau kuajak jalan-jalan malam itu, hanya berduaan saja.

Sepanjang jalan aku dan Wiwik ngobrol tentang keadaan kantor masing-masing, tentang keadaan alam, tentang keluarga, dan ngomong apa saja untuk menghilangkan kejenuhan selama perjalanan ke gardu pandang. Setelah jalan beberapa ratus meter melewati tanjakan dan tikungan tiba-tiba melewati tikungan yang cukup gelap karena lampu penerangan jalan yang mati.
Wiwik berhenti sebentar dan berkata" Om, gelap tuh jalan, gimana yuk balik aja".
"Balik, tanggunglah yau, kan gardu pandang tinggal beberapa puluh meter di depan, setelah tikungan itu kan?" sahutku.
"Iya tapi kan cukup gelap, aku agak takut" sahutnya pula.
"Nggak apa-apa, ada aku kok (gayaku sok berani), yuk terus!"

sahutku sambil secara reflek menarik tangannya dan kugandeng terus melewati kegelapan.
Wiwik, terus mengikuti, malah memegangku semakin erat dan semakin dekat jaraknya tubuhnya dengan tubuhku. Tercium, bau parfum yang wangi dari tubuhnya.
Hal ini semakin ingin aku menggandengnya lebih lama. Akhirnya aku dan Wiwik melewati jalan gelap sambil bergandeng tangan terus sampai tempat gardu pandang.
Disana sudah ada beberapa pasangan muda-mudi yang juga duduk-duduk sambil memandang keindahan Gunung Merapi.

"Om, lepasin dong tangannya" pintanya.
"Oh maaf, ya Wuk, aku sampai lupa, habis hangat sih" godaku.
"Om, nakal, besok kuberitahu lho istri om, biar dimarahi" sahutnya.
"Eh, ngancam, ya? Besuk juga kuberi tahu pacarmu, hayo" balasku pula.
Wiwik mencubit tanganku, namun secara cepat kupegang tangannya erat-erat dan kutarik tubuhnya mendekati tubuhku, kutarik lagi hingga tubuh kami berdua berdekatan.
"Ssst.. nggak usah ribut, nanti pada menengok dan melihat ke sini semua" bisikku di telinganya.

Mata kami saling memandang, dan Wiwik pun tersenyum.
"Oke, Om, nggak usah lapor-laporan, ya" ucapnya pelan, kemudian aku pun membalas senyumnya.
"Iya deh, Oreo, setujukan?"
Akhirnya malam itu kami duduk-duduk untuk beberapa lama, ngobrol, sambil menikmati pemandangan dari gardu pandang, yang pada waktu itu Merapi telah diselimuti kabut cukup tebal.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 23. 30 waktu setempat, hawa di pegunungan itu semakin terasa dingin, satu persatu, sepasang demi sepasang, mereka mulai meninggalkan gardu pandang. Aku pun mengajak turun Wiwik menuju tempat penginapan kami.
"Om, dingin sekali ya, Om dingin nggak? tanyanya.
"Ya dingin sahutku pula, gimana to? tanyaku pula.
"Nggak apa-apa kok, yok kita turun" lanjutnya. Tanpa berkata ba, bi, bu, ku gandeng tangan Wiwik, dia tak menolak, aku semakin berani untuk segera merangkulnya.
"Gimana Wuk? hangat kan? tanyaku.
"Om, nakal, besuk aku bilangan, sama istri Om" sahutnya.
"Eit, kita kan udah janji, Oreo-kan" kataku pula.
Akhirnya Wiwik diam saja kurangkul dan kudekap sepanjang perjalanan menuju penginapan, mungkin merasa hangat dan lebih tenang seperti yang kurasakan.
"Lepasin Om tangannya" katanya setelah terlihat penginapan yang tinggal beberapa puluh meter. Kulepaskan tanganku dan aku sengaja menyenggol bukitnya yang ternyata cukup besar. Wiwik hanya diam saja.
"Dah.. Wiwik.." kataku ketika kami berpisah dan menuju kamar masing-masing.
"Dah.. Om, nakal" sahutnya sambil tersenyum.

Sabtu sore itu kami diberi kesempatan untuk pulang mengengok keluarga masing-masing.
Aku pulang sendiri, Wiwik dijemput oleh pacarnya, yang ternyata juga tidak begitu ganteng.
"Selamat jalan, ya, hati-hati" kataku sambil mengulurkan tanganku untuk bersalaman.
Wiwik pun menjawab "Terimakasih, Om, ini kenalkan, pacarku".
Aku pun terus bersalaman dan berkenalan dengan pacarnya.
"Sigit" katanya singkat.
"Yanto" jawabku singkat pula.
"Senang ya punya pacar cantik, kok diajak pulang sore ini, mengapa tak nginap di sini aja berdua, sekaligus bermalam minggu di sini.

Kalau mau nanti aku mintakan izin sama panitianya. Aku kenal kok sama ketua panitia kegiatan ini" godaku pula.
Mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum malu.
"Nggak usah lah yau, nanti ndak lupa daratan" sahut mereka berdua hapir bersamaan.
"Oke, kalau gitu selamat jalan, dan sampai jumpa" aku berkata demikian sambil melambaikan tangan.
Mereka berdua pun melambaikan tangan, menghidupkan mesin motornya dan melesat turun ke kota. Ketika aku masih bengong melihat Wiwik dengan pacarnya sudah melesat pergi, tiba-tiba dari belakang di tepuk pundakku oleh Pak Bandung, salah seorang panitia yang telah kukenal sebelumnya.

"Hayo! dik Yanto jangan bengong aja, dulu waktu muda kan pernah kayak gitu, ingat lho dik Yanto, anak dan istri telah menunggu dirumah untuk berakhir pekan" katanya.
Aku pun terkejut, "Oh, nggak apa-apa kok Pak, saya cuma setengahnya tidak percaya, itu lho gadis cantik kayak gito kok pacarnya biasa saja, nggak ganteng, kalau dipikir-pikir justru lebih ganteng saya to Pak" jawabku pula.
Dan sambil menghidupkan mesin aku langsung tancap gas turun gunung, mampir sebentar di warung pinggir jalan, membeli juadah tempe serta wajik untuk oleh-oleh anak istri yang telah menunggu di pondok mertua indah.

Senin pagi itu para peserta kursus telah berdatangan lagi untuk melanjutkan menimba ilmu kearsipan. Kulihat Wiwik juga telah datang dan tengah menikmati sarapan pagi yang memang telah disediakan oleh pihak panitia. Aku mendekat dan menyapa "Pagi Wuk, gimana kabarnya, gimana malam minggunya, asyikkan, saya tahu lho Wuk malam itu kamu tidak pulang ke rumah tapi entah bermalam dimana" kataku mencoba menebak-nebak sambil duduk didekat Wiwik yang lagi sarapan pagi.


"Ah, Om ini sok tahu, kalau ya terus mau apa, kalau tidak trus gimana" jawabnya agak ketus.
"Ya, nggak apa-apa, wong aku cuma bercanda, kok" aku balas menjawab.
"Gimana Wuk, nanti habis pelajaran malam kita jalan-jalan lagi, ya. Nanti jalan-jalan dengan route yang lain dengan kemarin, oke?" aku mengajak Wiwik.
Wiwik pun mengangguk tanda setuju.
Malam itu setelah pelajaran malam berakhir pukul 21. 30 kami berdua jalan-jalan mengelilingi taman parkir, gardu pandang, telogo nirmolo, dan akhir berhenti duduk-duduk karang Pramuka. Saat itu Wiwik memakai jaket tebal dan celana jeans ketat.
Dalam keremangan malam terlihat bentuk kakinya yang indah sesuai dengan tinggi badannya.

"Dingin Wuk?" tanyaku membuka percakapan.
"Ya dingin, mana ada tempat di Kaliurang yang hangat" jawabnya.
"Ada saja" jawabku
"Dimana" tanyanya lagi
"Ya, disini" jawabku sambil aku menggeser pantatku dan duduk berdekatan dengannya.
"Dimana Om?" Wiwik pun bertanya lagi
"Ya.. disini, coba pejamkan mata sebentar!" perintahku.
Wiwik pun memejamkan mata. Pelan tapi pasti Wiwik pun segera kupeluk dengan lembut dan ternyata hanya diam saja.
"Dimana Om? dia bertanya lagi
"Disini" jawabku sambil terus mempererat pelukanku kepadanya.
"Om, nakal" Wiwik meronta tapi aku tetap meneruskan pelukanku bahkan semakin erat dan
akhirnya perlahan-lahan dia menikmati juga kehangatan pelukanku bahkan membalas dengan pelukan yang tak kalah erat.

Peluk dan terus peluk, kehangatan pun terus mengalir dan kuberanikan diri untuk mencium pipinya, mencium bibirnya.
Dia ternyata menerima dan membalas ciumanku dengan hangat.
"Oh.. Om.." desahnya pelan
"Oh.. Wuk, cantik sekali kau malam ini" rayuku pula.
Tanganku selanjutnya menelusuri tubuh dibalik jaketnya yang tebal. Aku sedikit kaget karena Wiwik hanya memakai kaos "adik"
(istilah kaos yang kekecilan sehingga ketiak dan pusar terlihat) singlet yang agak tebal.
"Nggak usah terkejut Om, aku sering melakukan ini dengan pacarku" bisiknya.
"Lho, katamu dingin, kok pakai singlet?" aku balas bertanya.
"Iya, tadi dingin, tapi sekarang sudah agak hangat, kan ada pemanasnya" celotehnya pula.
"oo begitu, baru hangatkan? Oke kalau begitu nanti kubuat kamu lebih hangat lagi, kalau perlu sampai panas" lanjutku sambil terus mengelus, meraba tubuhnya.

Dan akhirnya sampai dibukit yang cukup besar dan kiranya mulai menegang. Tanganku berhenti sebentar dibukitnya yang kenyal, kemudian mulai kuremas-remas dengan kedua tanganku dari arah belakang. Wiwik mulai melenguh keenakan.
"Oh.. Om, terus-terusin Om.., Om.. teruus" Wiwik terus merengek.
Kemudian dia berbalik dan tangannya juga mulai memeluk tubuhku semakin erat. Tangannya menuntun tanganku dari bawah kaosnya menuju bukitnya dan ternyata juga tidak memakai BH. Kuremas pelan-pelan dan semakin cepat seiring dengan rengekannya. Kami berdua saling berpelukan, saling berciuman, melumat bibir, saling meremas, entah berapa lama. Kami semakin tidak sadar kalau berada diruang terbuka. Disekeliling kami hanya pepohonan hutan cemara dikeremangan malam, diiringi suara cengkerik, belalang serta binatang malam lainnya, dipinggir tanah lapang itu. Kami pun tidak akan tahu seandainya disekeliling lokasi itu ada yang melihat baik sengaja mengintip atau tidak sengaja melewati daerah itu.

Permainan terus berlanjut diudara terbuka itu. Wiwik pun segera mengarahkan tangannya ke daerah selangkanganku, mengelus dari luar celanaku. Tahu bahwa "adik"ku telah bangun, Wiwik pun segera memelorotkan celanaku yang kebetulan waktu itu hanya memakai training. Segera dikeluarkannya batang kemaluanku yang telah tegak dan selanjutnya Wiwik mengemot-emot, memainkan lidahnya dikepala kemaluanku dengan semangat. Hal ini membuatku lupa dengan istri dirumah yang belum pernah melakukan hal yang demikian.

"Oh.. Wuk, terus Wuk, teruuss.. enak Wuk, teruuss.."
Dan crot, crot, crot.., crot, crot.., crot.., muncratlah spermaku dalam mulutnya yang mungil dan sebagian lagi mengenai wajahnya yang cantik. Aku hanya memejamkan mata keenakan.
"Enak Om?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk, mulut rasanya sulit berkata karena hampir tak percaya kejadian yang baru saja tadi.
Ini adalah hubungan seks-ku yang pertama dengan selain istri, walaupun baru sebatas oral seks.

Dan ternyata menimbulkan kesan lain yang mendalam selain juga mengasyikkan.
"Aku bersihkan ya Om" dan tanpa berkata lagi Wiwik mengulum-ulum batang kemaluanku, menjilat-jilat membersihkan sisa-sisa sperma yang masih menempel sampai bersih, sih.
"Oh, Wuk.."
Sadar berada di alam terbuka, aku segera melihat jam tanganku. Jarum jam telah menunjukkan angka 23. 15. Aku segera mengajak Wiwik meninggalkan tempat itu.

* TAMAT *
ReadmoreBonus Mengikuti Kursus

Disetubuhi Ayah Tiri

Cerita Dewasa - Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin dan agak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bendera ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatur segala-galanya dalam keluarga. Namun, walaupun ibu keras, di luar rumah aku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada saat aku duduk di kelas 2 SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di sana selama 2 minggu. Hatiku bersorak. Aku akan bisa bebas di rumah. Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar. Aku juga bebas pulang sore. Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.

Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah. Aku sudah beberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya. Tetapi hubungan tersebut tidak pernah betul-betul nikmat. Selalu dilakukan buru-buru sehingga aku tidak pernah orgasme. Aku penasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasme?

Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah. Kami merasa bebas. Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulang pukul enam lewat. So, cukup waktu untuk memuaskan birahi. Kami duduk di sofa. Anton dengan segera melumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. "Ah.." kurangkul tanganku ke lehernya. Ciumannya semakin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya pun mulai bermain di kedua bukitku. Aku benar-benar terangsang. Aku sudah bisa merasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Segera kujulurkan tanganku ke perut bawahnya. Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras. Kucoba membuka reitsleting celananya tapi agak susah. Dengan segera Anton membukakannya untukku. Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan, aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Anton. Kulihat segera sesudah CD Anton lepas, senjatanya sudah tegang, siap berperang.

Kami berpelukan lagi. Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya. Tidak begitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sejenak. Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguh menimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut. Penisnya kemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja. Di ujungnya berlubang. Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam. Anton melenguh. Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah. "Ah.." kumasukkan saja batang itu ke mulutku. Anton melepaskan celana dalamku lalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir kemaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bernafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kepala penisnya, sambil tanganku mempermainkan telurnya dengan lembut. Kadang kugigit kulit telurnya dengan lembut.

"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!"
Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku di lantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya. Sekarang aku dan dia betul-betul bugil. Aku makin menyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ternyata Anton naik ke atas tubuhku dengan posisi terbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Selanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnya ditenggelamkannya ke lubangku. Sementara batangnya tetap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.

"Ton, ayo masukin saja."
"Sebentar lagi Nitt."

"Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!"
Anton memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.. "Bless.." batang itu masuk dengan mantap. Tak perlu diolesi ludah untuk memperlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.

Tiba-tiba, "Ah.. aku keluar.." Dicabutnya penisnya dan spermanya berceceran di atas perutku.
"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah," rungutku dalam hati.
Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada."
Dugaanku meleset. Anton berpakaian.
"Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak telat nih," dia berpakaian dengan buru-buru. Aku betul-betul kecewa.
"Kurang ajar anak ini. Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskan kamu saja."

Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau main lagi dengannya. Karena kesal, kubiarkan dia pergi. Aku berbaring saja di sofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.
Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.
"Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali," pikirku. Tapi aku memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Aku tetap cuek.

"Nita!"
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar petir. Aku masih telanjang bulat.
"Ayah!" aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.
"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah. Jangan membantah. Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu."
Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, "Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama," aku menangis memohon.

Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa. Kulihat wajahnya makin melembut.
"Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dengar suara-suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayah lihat dari balik pintu, kamu sedang dientoti lelaki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap mainnya."
Aku diam aja tak menyahut.
"Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan terbongkar."
"Sungguh?"

Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku. Dijilatinya permukaan payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku. Sementara tangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah segera membuka bajunya. Langsung seluruhnya. Aku terkejut. Kulihat penis ayahku jauh lebih besar, jauh lebih panjang dari penis si Anton. Tak tahu aku berapa ukurannya, yang jelas panjang, besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berbulu lebat. Bahkan antara pusat dan kemaluannya juga berbulu halus. Beda benar dengan Anton. Melihat ini saja aku sudah bergetar.

Kemudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lebar-lebar. Dia berlutut di hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek ke dalam vaginaku. Aduh, lidah ayahku menjilati vaginaku. Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut.

Jilatannya dari bawah ke atas berulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. "Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak, nikmat Yah," tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapan ayahku. Ayah "memakan" vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku merasakan nikmat yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki sebelumnya.

"Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya," aku tiba-tiba merasa lemas. Ayah mungkin tahu kalau aku sudah orgasme, maka dihentikannya menjilat lubang kewanitaanku. Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku, penisnya yang besar itu menengadah. Dengan posisi, ayah berdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan batang ayahku ke mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. Kusedot dan kuhisap lagi. Begitu kulakukan berulang-ulang. Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnya terkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnya menyentuh kerongkonganku. Aku kembali sangat bergairah merasakan keras dan besarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin segera ayah memasuki lubangku, tapi aku malu memintanya. Lubangku sudah betul-betul ingin "menelan" batang yang besar dan panjang.


Tiba-tiba ayah menyuruhku berdiri.
"Mau main berdiri ini," pikirku.
Rupanya tidak. Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya.
"Masukkan Nit!" ujar Ayah.
Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku. Ah.. sedikit sakit dan agak susah masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.
"Aduh pelan-pelan, Ayah."

Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibat sodokan ayah tadi. Kugoyang perlahan. Dengan perlahan pula batang itu semakin masuk dan semakin masuk. Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat. Lubang vaginaku betul-betul terasa penuh. Nikmat rasanya. Karena dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusetubuhi ayahku dengan rakus. Ekspresi ayahku makin menambah nafsuku. Remasan tangan ayahku di kedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat. Kogoyang pantatku dengan irama keras dan cepat.

Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, "Stop! Kita ganti posisi. Kamu nungging dulu."
"Mau apa ini?" pikirku.
Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangku kemudian.. "Bless.." batang itu masuk ke lubangku. Yang begini belum pernah kurasakan. Anton tak pernah memperlakukanku begini, begitu juga Muklis, lelaki yang mengambil perawanku. Tapi yang begini ini rasanya selangit. Tak terkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman batang itu terasa menggesek seluruh liang kewanitaanku, bahkan hantaman kepala penis itupun terasa membentur dasar vaginaku, yang membuatku merasa semakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin keras dan makin cepat. Perasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat. Makin nikmat, makin nikmat, dan makin nikmat.

Tiba-tiba, "Auh..oh.. oh..!" kenikmatan itu meladak. Aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Hentakan ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya penisnya dari lubang vaginaku. Dengan gerakan cepat, ayah sudah berada di depanku. Disodorkannya batangnya ke mulutku. Dengan cepat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan cepat. Tiba-tiba kurasakan semburan sperma panas di dalam mulutku. Aku tak peduli.

Terus kuhisap dan kuhisap. Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan, lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Ayah memelukku dan menciumku, "Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah." Aku tak menjawab. Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku. Yang jelas aku pasti mau. Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme. Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali. Siapa yang mau menolak?

Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi. Sementara mama masih sering marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang menjadi ayahku itu, sering kugeluti dan kunikmati. Beginilah kisah permainanku dengan ayahku yang pendiam, tetapi sangat pintar di atas ranjang.

* TAMAT *
ReadmoreDisetubuhi Ayah Tiri

Belah Duren

Cerita Dewasa - Kuingat pada hari itu setelah selesai resepsi pernikahan kami, yang dilakukan pada siang hari, kami berdua beserta rombongan keluarga kembali ke rumah baru kami. Rombongan keluarga kami, pada jam 8 malam kembali ke rumah mereka masing-masing, sehingga akhirnya aku dan Mas Ferry hanya tinggal berdua saja di rumah kami itu. Pada saat itu Mbok Minah, pembantu rumah kami itu belum ada, karena kupikir apa-apa di rumah dapat dikerjakan sendiri. Aku mandi duluan sebab badanku sudah merasa gerah setelah seharian sibuk dengan acara pesta yang padat itu.

Setelah selesai mandi dengan mengenakan daster, aku duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Kemudian Mas Ferry yang pada saat itu hanya bercelana pendek, kusuruh mandi. Mas Ferry untuk ukuran umum dapat dikatakan termasuk tampan. Warna kulitnya agak gelap kehitaman, pada wajahnya ada tumbuh rambut halus di dagu dan dadanya cukup bidang dengan tinggi badan berkisar 175 cm, otot-ototnya menonjol kuat.

Setelah selesai mandi Mas Ferry dengan santai duduk di sebelahku sambil ikut mengawasi televisi yang remotenya masih di tanganku, "Mar, apakah kamu capai?" tanya Mas Ferry. "Tidak Mas, memangnya ada apa?" jawabku lugu, karena memang aku sesungguhnya tidak menyadari apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Rupanya Mas Ferry yang telah sangat bernafsu, mendengar jawabanku itu, tanpa ba bi bu segera menarik badanku dan membekapku erat-erat dan sebelum aku menyadari benar apa yang sedang terjadi, kedua tangan Mas Ferry dengan cepat segera menguak dasterku dan sekalian ditariknya lepas BH-ku sehingga kedua buah dadaku yang ranum segera seolah-olah melompat keluar. Mas Ferry terpesona melihat bentuk buah dadaku yang indah, yang warna kuning langsat dengan bulatan kecil coklat tua kemerahan, serta puting kecil menantang di ujungnya.

Aku mula-mula mencoba memberontak, akan tetapi aku segera sadar bahwa sekarang aku adalah istri dari Mas Ferry. Badanku segera dipeluknya dan disandarkan pada sandaran sofa, mulutnya langsung menuju puting susuku, kurasakan lidahnya lincah bergerak menjilat-jilat puting susuku, menimbulkan suatu perasaan aneh, geli yang tidak dapat kulukiskan, yang menjalar keseluruhan badanku.

Hal ini membuat aliran darahku bertambah cepat dan badanku tiba-tiba merasa panas, puting susuku terasa semakin mengeras, sesekali kurasakan gigitan kecil gigi Mas Ferry menggores putingku. Pada bagian perutku kurasakan ada benda yang membonggol besar mendesak dan menekan hebat. Bibirku juga tak luput dari lumatannya, terasa habis dilumat bibirku, sampai aku tak bisa bernafas, aku mulai berkeringat dan tiba-tiba tangan kanannya mulai meluncur ke bawah menuju ke arah kemaluanku yang masih tertutup dengan CD, diselipkan tangannya di antara pahaku.

Aku agak terkejut, sehingga otomatis kedua pahaku kututup rapat-rapat dan kedua tanganku memeluk Mas Ferry erat-erat, Mas Ferry semakin gencar saja melakukan aktivitasnya, kemudian ditarik dasterku sampai terlepas dan perlahan-lahan celana dalamku dilucuti juga sambil tersenyum.

Setelah itu dengan sigap direnggangkannya kedua pahaku, sehingga dengan leluasa Mas Ferry dapat melihat kemaluanku yang padat dengan bulu hitam keriting, tangannya mengocek kemaluanku yang sudah agak basah itu dengan halus, kemudian dimasukkannya jari tengah perlahan-lahan ke dalam lubang kemaluanku, sedangkan ibu jari dan jari jempolnya menekan bibir-bibir kemaluanku, membuka jalan dengan meminggirkan rambut kemaluanku. Klitorisku terasa kaku, sambil jari-jarinya bermain-main di kemaluanku, mulutnya menjilat dan menyedot buah dadaku sampai aku kegelian dan tiba-tiba dia berhenti menyedot buah dadaku dan badannya melongsor ke lantai dan kini Mas Ferry jongkok diantara kedua pahaku, yang dengan perlahan-lahan dikuakkan, sehingga terbuka dan kepalanya dimajukan kearah pangkal pahaku dan kurasakan mulutnya sudah menempel pada kemaluanku.

Merasakan lidahnya yang basah dan hembusan nafasnya pada pangkal pahaku membuatku menggelinjang kegelian, lebih-lebih ketika kurasakan lidahnya menyapu bersih ruang dalam kemaluanku yang telah basah itu, sambil tangan kanannya ikut membantu memainkan klitorisku. "Aaagghhh.. Maasss.. aduuh..!" aku mengerang-erang dan mengeliat-geliat kegelian, tapi dia tidak mempedulikannya, diteruskan aktivitasnya mempermainkan klitorisku.

Selang sesaat, aku disuruhnya duduk di lantai, diantara kedua kaki Mas Ferry yang duduk di atas sofa dan aku sangat kaget melihat benda bulat besar yang terletak diantara kedua paha Mas Ferry yang tegak menghadap ke atas, batang kemaluan Mas Ferry sungguh dahsyat, seperti batang kemaluan pemain blue film yang pernah dahulu satu kali kulihat di video yang diputar di rumah seorang teman wanitaku. Panjangnya kurang lebih 17 cm dengan kepalanya batang kemaluannya bulat besar seperti topi baja tentara dan batang kemaluannya berdiameter 3 cm, dilingkari oleh urat-urat yang menonjol. Mas Ferry hanya tersenyum saat melihat mataku yang terbelalak itu, sambil memegang batang kejantanannya dan digerak-gerakkan dengan tangannya, dia mengambil tanganku dan disuruhnya aku memegang batang kemaluannya.

Alamak.. tanganku tak cukup melingkar pada batang kemaluannya yang besar dan panjang itu. Dalam posisi Mas Ferry duduk seperti itu, batang kemaluannya memanjang di atas perutnya sampai mencapai pusarnya. Aku merinding dan takut juga melihatnya benda panjang, bulat berwarna hitam mengkilap mendongak seperti belut besar itu.

Tanpa sadar badanku menggelinjang dan terasa ngilu pada perut bagian bawahku, membayangkan benda tersebut menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku yang kecil dan masih sempit itu. "Kenapa kok diplototin seperti itu!" tanyanya.

"Eh... aku heran kok, kayak gini besarnya ya? apa cukup nggak ya ini masuk ke dalam punyaku nanti?" jawabku sambil tetap memegangnya. Belum selesai aku melanjutkan omonganku, ditekan kepalaku ke arah perutnya dan disorongkan ujung batang kemaluannya ke mulutku, dan... eeehmm, mulutku tak muat menampung semua batang kemaluannya ke dalam.

Kurasakan aneh juga seperti sedang mengulum es cream horn saja, aku mencoba melakukan seperti apa yang pernah kulihat pada VCD porno itu, aku mencoba memainkan lidahku dan mulutku maju mundur, sehingga batang kemaluannya menyembul tenggelam dalam mulutku. Tangannya juga tidak tinggal diam menggapai semua bagian tubuhku yang sensitif, sehingga aku semakin terangsang.

Aku mencoba menjilat-jilat pula buah zakarnya, pada ujung batang kemaluannya, kurasakan ada cairan bening sedikit cukup manis dan agak asin terus kuhisap sambil mencoba memasukkan kepala batang kemaluan Mas Ferry ke dalam mulutku, sampai mulutku tak mampu lagi menahan besarnya batang kemaluan Mas Ferry itu.

Setelah puas aku mencium batang kemaluannya dan mengisap-isap kepala batang kemaluannya, sampai mulutku terasa capek, kemudian... "Mar, coba kamu tengkurap di pinggir sofa dan pegangi ujung sofa itu", perintahnya. Aku tidak mengerti maunya Mas Ferry, tapi kulakukan saja perintahnya, badanku setengah tengkurap di sofa dan kedua lututku berlutut di lantai sehingga pantatku terbuka, agak menungging ke atas. Tiba-tiba kurasakan batang kemaluan Mas Ferry dipukul-pukulkan pada pantatku sehingga aku kegelian, kemudian Mas Ferry menempatkan kepala batang kemaluannya menempel pada bibir kemaluanku dari belakang, rupanya Mas Ferry sudah akan melakukan penetrasi.

"Masss.. pelan-pelan yaaa! jangan sampai sakit.. itunya Mas kan sangat besar!"
"Jangan takut yaaanggg.." dengan perlahan-lahan Mas Ferry mendorong batang kemaluannya, sehingga terasa kepala batang kemaluannya masuk sebagian dan terjepit oleh kedua bibir liang kewanitaanku yang masih ketat itu. Perutku tertekan pada pinggir sofa dan kedua tangan Mas Ferry memegang pinggulku dengan erat-erat, sehingga pantatku tidak dapat digerakan untuk menghindari tekanan batang kemaluannya pada liang senggamaku, Mas Ferry melanjutkan tekanannya ke lubang kemaluanku sehingga terasa lubang kemaluanku terkuak dan dipenuhi oleh benda besar, kepala batang kemaluannya tertahan oleh sempitnya lubang kemaluanku, dia mencoba mendorong lagi dan gagal untuk menerobos masuk.

"Aaaah... seret sekali ya, untuk menembus ke dalam.. susah juga kalo perawan", omongnya, akan tetapi Mas Ferry tidak kehilangan akal diambilnya hand & body lotion dan dioleskan pada kepala kemaluannya yang besar itu dan ke seluruh batangnya, kemudian dia mencoba lagi menekan secara perlahan-lahan sambil tangan satunya memegang batang kemaluannya dan tangannya yang lain membuka belahan pantatku. Perlahan-lahan tapi pasti kepala batang kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku yang kecil dan masih sempit, aku agak panik sebab kurasakan agak pedih pada bagian dalam kemaluanku.

"Maasss, udah ah... nggak bisa masuk... terlalu besar sih", pintaku.
"Sebentar... tahan dulu ya.. ini udah nyampe sepertiga lho!" jawabnya sambil dengan tiba-tiba kedua tangannya memeluk bagian perutku dan menariknya ke atas dan seluruh berat badannya menekan punggungku serta pantatnya didorong ke depan menempel pada pantatku. Akibatnya seluruh batang kemaluannya mendesak masuk ke dalam lubang kemaluanku dan, "Ssreeet... sret... sreeetttt." Aku pun menjerit lirih, "Aaauuu... aduuhh!" aku menjerit dengan keras karena, kurasakan bagian bawahku seakan-akan terbelah dan batang kemaluan Mas Ferry terasa tembus ke perutku hingga terasa di kerongkonganku.


Kedua tangan Mas Ferry tetap mendekap perutku dengan kuat, sehingga biarpun aku menggelepar-gelepar dengan kuat tetap saja batang kemaluannya bisa menerobos keluar masuk liang kewanitaanku.

Dengan pasti dan teratur Mas Ferry menggerak-gerakan pantatnya maju mundur sehingga lama-kelamaan batang kemaluannya mulai lancar keluar masuk pada kemaluanku. Aku mulai merasa kegelian yang tak tertahan, karena setiap kali batang kemaluannya ditekan ke dalam lubang kemaluanku, klitorisku ikut tertekan masuk, sehingga terasa sangat nikmat tergesek batang kemaluannya yang berurat itu.

"Aduhh... eeengg.. eeennaak.. aaahh.. aduuhh.. Masss.. teeeruuskaaan.. Masss!". Terasa lubang kemaluanku terisi penuh sehingga napasku menjadi ngos-ngosan. Akhirnya seluruh badanku bergetar dengan hebat sehingga tersentak-sentak, aku mencapai orgasme dengan dahsyat dan cairan licin membanjir dari dalam liang kewanitaanku, "Ooohhh.. ooohh.. aaaduuuhh.. eeenaaakk" dan kurasakan kenikmatan itu menyambung terus saat batang kemaluan Mas Ferry maju mundur di celah liang kewanitaanku. Setelah kenikmatan yang dahsyat itu melandaku, aku terkapar dengan lemas di sofa.

Kemudian Mas Ferry menepuk pantatku dan membalikkan badanku menghadap padanya, sehingga sekarang aku telentang di atas sofa dengan pantatku terletak di pinggir sofa dan kedua kakiku terjulur di lantai. Mas Ferry menguak kedua kaki lebar-lebar dan jongkok diantara kedua pahaku. Tangan kirinya menekan pinggulku dan ibu jari dan jari telunjukya menguak bibir kemaluanku, sedangkan tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang ditempatkan pada bibir kemaluanku.

Kepala batang kemaluannya digosok-gosokan sebentar pada bibir kemaluanku, juga pada klitorisku, sehingga aku mulai terangsang lagi dan badanku mulai menggelinjang. Melihat itu Mas Ferry mulai menekan masuk batang kemaluannya ke dalam kemaluanku, setelah itu Mas Ferry menggenjot batang kemaluannya keluar masuk, buah dadaku dibiarkan bergerak bebas mengikuti irama dorongan pantat Mas Ferry, sementara tangan Mas Ferry memegang pinggulku dan menariknya ke atas, pantatnya tetap bekerja maju mundur.

Saat batang kemaluan masuk, badanku terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Mas Ferry menciumi buah dadaku sambil batang kemaluannya terus bergerak keluar masuk kemaluanku. Aku mulai merespon lagi dan berusaha dengan menggerakkan pantatku memutar ke kiri dan kanan. Batang kemaluan Mas Ferry terjepit dan terpelintir mengikuti gerakan pantatku, dia pun mulai mengerang dengan kuat.

Dipegangnya kedua buah dadaku kuat-kuat dan ditarik masukkan batang kemaluan besarnya berulang-ulang sampai aku mulai kewalahan.

"Aaahhh... Maaarrr.. aku mau keluar niihhh!" erangnya, kupercepat menggoyang pantatku karena aku tak mau menyia-nyiakan keadaan ini, aku ingin juga memberikan pada Mas Ferry kepuasan maksimal dan, "Aaahhh.. aduuhh.. oohhh!", diikuti oleh, "Ssreeet.. sreeettt... sreet.. crooottt.. crooottt.."

Mas Ferry menekan kuat-kuat pantatnya, sehingga seluruh batang kemaluannya terbenam ke dalam kemaluanku dan buah pelernya menempel ketat pada lubang anusku. Aku merasa sangat geli dan terangsang dan kurasakan semprotan hangat air mani Mas Ferry menyemprot ke dalam liang kewanitaanku dan saking banyaknya terasa penuh liang kewanitaanku sehingga sebagian terasa mengalir keluar membasahi anusku dan menetes di sofa.

Mas Ferry masih mengerang hebat dengan tubuhnya bergetar-getar kenikmatan dan aku gigit pentil dadanya, sambil kucakar punggungnya untuk menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kuangkat pantatku pelan-pelan dan masih kulihat sisa-sisa ketegangan di batang kemaluan Mas Ferry.

Setelah itu kami pun terkulai lemas dan tidur sambil batang kemaluan Mas Ferry masih menancap di memekku. Begitulah hampir selama 2 minggu kami melakukan hubungan seks dan tiba saatnya ketika Mas Ferry harus berlayar karena masa cutinya sudah habis. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di pelabuhan. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupku dengan jadwal tugas Mas Ferry selang seling pergi bertugas di Riq dan tinggal di darat, di mana keadaan ini kami jalani hampir 5 (lima) tahun sampai sekarang.
ReadmoreBelah Duren

Cik Melly Bonus Bermain Playstation

Cerita Dewasa - Aku bernama Joe dan aku tinggal di sebuah kompleks perumahan yang lumayan terkenal di bilangan Jakarta Selatan karena banyak orang asing yang tinggal di sana. Hobbiku adalah bermain Play Station dan karena hobbiku ini aku dapat bercinta dengan sesama Play Station fans.

Mungkin para pembaca akan mengira bahwa hanya cowok yang bermain Play Station. Aku berani menyebutkan bahwa cewek juga gemar bermain Play Station karena aku mengenal seorang gadis penunggu arena permainan Play Station di dekat rumahku yang gemar sekali bermain Play Station. Setiap kali aku datang ke tokonya, dia selalu memainkan game favoritnya yang berjudul Final Fantasy 8.

Karena aku sering datang bermain di rumahnya yang sekaligus menjadi tokonya, aku mengenal dia lebih akrab. Dia adalah Melly, salah seorang mahasiswa dari sebuah PTS di Jakarta Barat. Aku sering datang bermain Play Station di rumahnya ketika dia tidak membuka tokonya sehingga aku tidak mendapat gangguan dari konsumennya yang biasanya tergolong anak-anak kampung yang tinggal di sekitar daerah tersebut.

Aku dan Cik Melly sudah akrab meskipun dia lebih tua dariku setahun. Cik Melly bahkan sering menceritakan kisah pribadinya di mana dia ditinggal oleh Irwan, kekasihnya karena Irwan menikah dengan cewek lain dan yang lebih gilanya, Irwan telah mengambil perawan Cik Melly dengan paksa dan mencampakkannya begitu saja.

Suatu ketika, aku datang ke rumahnya ketika dia telah menutup tokonya karena hari sudah sore dan aku melihat dia sedang asyik memencet-mencet joystick sambil berteriak-teriak kesal setiap kali karakter jagoannya kena tembakan dari musuhnya. Aku memanggil namanya dari belakang yang membuatnya kaget dan berteriak histeris. Aku cuma tersenyum ketika dia marah-marah karena permainannya telah berakhir dalam sekejap akibat gangguanku saat itu.

Melly kemudian menyuruhku untuk tidak menganggunya karena dia sedang serius untuk menamatkan game Final Fantasy 8 tersebut. Aku hanya duduk di lantai di dekat TV sambil memperhatikan TV dan gerakan-gerakan tangannya yang memencet joystick dengan lihainya. Lama-lama aku menjadi bosan karena melihat dia asyik bermain dan aku mencoba menganggunya dengan cara yang lain.

Aku mendekati dia yang sedang bermain dan aku duduk tepat di depan selangkangannya karena dia duduk di kursi sementara aku berada di bawah kursi. Aku memperhatikan celana dalam warna merah mudanya yang tertutup oleh roknya yang sangat mini. Aku mendadak menjadi terangsang dan mencoba memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Dengan lihainya, aku memasukkan tanganku dan jari-jariku bermain di sekitar kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalamnya. Gerakan-gerakan jari-jariku memberikan respon yang sangat kuharapkan karena aku dapat merasakan basahnya liang kenikmatannya karena gerakan jari-jariku. Cik Melly mendesah kenikmatan sambil terus memencet joystick-nya dan karena dia tidak konsentrasi, dia akhirnya mematikan Power Play Station dan mendekatiku yang sedang duduk di depan selangkangannya.

“Joe, kamu nakal yah sama Cik Melly, sekarang Cicik mesti membalas kamu”, dia berkata sambil menunjukkan telunjuknya ke arahku. Aku hanya tersenyum saja dan dia tiba-tiba menciumku yang masih berada di bawah kursi di mana dia barusan duduk. Aku kaget bercampur senang dan tanpa membuang kesempatan, aku langsung menelanjanginya di dekat TV karena aku juga sudah terangsang memperhatikan dia sewaktu dia bermain Play Station barusan.

Aku mencium bibir Cik Melly dan Cik Melly juga memainkan lidahnya di dalam mulutku, sementara tanganku secara refleks bermain-main di daerah selangkangannya yang membuat nafasnya semakin memburu dan aku tahu bahwa dia menuntut lebih dari sekedar cumbuan. Aku kemudian berpindah posisi karena sekarang wajahku mendekati liang kewanitaannya dan mulai menjilatinya dengan liar sementara tanganku mulai memencet puting payudaranya dan seakan-akan aku sedang memainkan “tuts joystick” milik Cik Melly. Cik Melly menjawabnya dengan desahan-desahan kecil sehingga membuat batang kemaluanku semakin menegang dan aku semakin ingin merasakan nikmatnya liang kewanitaan seorang “Play Station” girl.

Dengan nafsu dan tanpa aba-aba dari Cik Melly, aku memasukkan batang kemaluanku yang telah menegang ke dalam liang kenikmatannya sehingga matanya yang sipit menjadi besar dari biasanya dan dia menggigit bibirnya seakan-akan sedang menahan sesuatu yang nikmat bercampur sakit karena batang kemaluanku yang termasuk besar di saat aku sedang terangsang. Aku terus menggenjot tubuh Cik Melly karena aku sangat menyukai jepitan-jepitan liang kewanitaan tubuh cewek penggemar Play Station ini. Aku merasakan nikmat sekali dan tak berapa lama, Cik Melly bergetar hebat dan melenguh dengan hebatnya dan di saat yang bersamaan, aku dapat merasakan batang kemaluanku dibanjiri oleh cairan kenikmatan Cik Melly dan tentunya aku merasakan nikmatnya cairan Cik Melly dan aku langsung mencium bibirnya yang ranum.

Aku masih belum puas dan Cik Melly nampaknya sudah kelelahan. Aku kemudian mencoba ide yang aneh di saat Cik Melly sedang kecapaian. Aku memang pernah praktikum Fisika Listrik sewaktu di SMP sehingga aku memiliki cukup pengetahuan mengenai listrik dan alirannya. Dengan ide tersebut, aku memasang kembali power plug dari Play Station yang baru saja dia matikan dan aku mencabut kabel main power dari Play Station tersebut. Dengan sedikit keahlianku di bidang listrik, aku berhasil meredam kekuatan listriknya sehingga main power yang bisa menyetrum orang sekarang menjadi tidak bahaya lagi. Kemudian, aku mendekatkan kabel tersebut ke liang kewanitaan Cik Melly. Aku melihat adanya percikan-percikan listrik yang kecil kekuatannya akibat tercampurnya kabel main power tersebut dengan cairan kewanitaan dari Cik Melly.

Setruman-setruman kecil di dalam tubuh Cik Melly membuat Cik Melly menjadi mendesah dan kadang-kadang bercampur dengan lenguhan yang terdengar erotik. Aku menyukai permainan ini dan aku semakin mencoba membesarkan voltage dari kilikan-kilikanku sehingga aku berhasil membuat Cik Melly bergetar beberapa kali karena dia pasti merasakan nikmatnya seks karena setruman-setruman listrik yang voltage-nya telah kuatur sehingga tidak membahayakan dirinya dan tentunya bisa memberikan kenikmatan yang belum pernah dia terima seumur hidupnya.

“Joee, udah.. Joe.. gue bisa gila nih kalo elu lakuin terus-menerus”, katanya yang selalu diiringi dengan lenguhan dan desahan yang membuatku semakin terangsang dan ingin menyetubuhinya setelah aku puas mengerjainya. Aku melepaskan plug dan mencabut kabel dari liang kewanitaannya. Sekarang aku melihat liang surganya yang penuh dengan cairan kewanitaannya dan Cik Melly mengaku bahwa dia telah klimaks selama 10 kali sewaktu aku memasukkan kabel ke dalam liang kenikmatannya.


Aku sudah tidak sabar untuk memasukkan batang kemaluanku yang semakin menegang dan dengan nafsunya, aku langsung menghujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggamanya. Kugenjot tubuhnya sehingga dia nampak kewalahan karena dia telah klimaks beberapa kali sehingga aku yakin bahwa dia merasakan kelelahan yang bercampur dengan rasa kenikmatan tapi aku tetap tidak peduli karena aku terus menggenjot tubuhnya.

Selama satu jam kemudian setelah aku menggenjot tubuhnya yang putih mulus tersebut, aku menjadi tidak tahan oleh jepitan-jepitan liang kewanitaannya sehingga aku semakin semangat menggenjot tubuhnya dan di saat yang bersamaan kami sama-sama melenguh karena kami mengeluarkan sensasi klimaks tersebut secara bersamaan. Aku jatuh kelelahan di atas tubuhnya yang putih bersih itu. Tak lama kemudian, aku kembali mencium bibirnya yang mungil dan mengulum lidahnya di dalam bibirku.

Aku memang sudah puas setelah menggaulinya tetapi aku masih belum puas untuk mengerjainya. Cik Melly masih kelelahan karena kenikmatan yang baru saja diterimanya. Aku kemudian menyuruhnya untuk membentuk posisi anjing dengan tubuhnya menghadap ke arah TV sementara perutnya beralaskan kursi yang dia gunakan barusan untuk bermain Play Station. Setelah dia membentuk posisi tersebut, aku meninggalkannya dan menyalakan Play Station sampai dia siap memainkan game Final Fantasy 8 kegemarannya. Tidak berapa lama setelah dia memainkan permainannya yang telah dia save sebelumnya. Dia masih asyik bermain game favouritnya dan aku sedang asyik mengocok batang kemaluanku yang masih lemas karena baru saja memuntahkan cairan kenikmatan di dalam liang kenikmatan Cik Melly.

Aku menjadi terangsang kembali karena melihat posisi tubuh Cik Melly apalagi disertai oleh tubuhnya yang putih bersih karena tidak berbusana sama sekali. Aku kemudian mendekati Cik Melly yang sedang membelakangiku, kumasukkan batang kemaluanku ke dalam anus Cik Melly sehingga keseriusannya bermain berubah mendadak, karena dia tiba-tiba menjatuhkan joystick dan menjerit-jerit karena batang kemaluanku telah menguasai anusnya yang kecil. Aku terus menggenjot anus Cik Melly sambil mengusap-usap punggung putih Cik Melly. Cik Melly terlihat mulai menyukai permainanku karena teriakan-teriakan kesakitannya telah berubah menjadi desahan dan lenguhan panjang yang membuat batang kemaluanku menjadi semakin nikmat.

Cik Melly asyik meresapi genjotan batang kemaluanku yang berada di anusnya tanpa memperhatikan TV yang masih menyala dengan game kesukaannya. Aku terus menggenjotnya sampai suatu ketika aku merasakan sesuatu yang ingin kuledakkan ke dalam anusnya, kupercepat dan akhirnya, “Arghh..”, aku kejang sesaat karena aku sedang melampiaskan nafsuku dan aku memeluk Cik Melly dengan erat sekali. Cik Melly kemudian membalikkan badannya dan menciumku dengan senyumannya yang cantik sekali dan penuh dengan rahasia. Sebagai tanda terima kasihnya, Cik Melly memberikanku gratis bermain Play Station selama 1 bulan bahkan ketika Customer dia telah pulang semua, aku bisa mengajak dia “main” bersamaku tentunya setelah aku bosan bermain Play Station.

* TAMAT *
ReadmoreCik Melly Bonus Bermain Playstation

Aku dan Tante Mina

Cerita Dewasa - Namaku John. Umur aku sekarang 23 tahun. Sekarang kuliah disalah satu universitas swasta di surabaya. Tinggi aku 175 cm berat 60 kg. Aku termasuk cowok yang mudah terangsang, tiap kali melihat cewek dengan dada besar, kontolku langsung berontak.. Aku sering melekukan onani paling tidak 1 kali sehari.. Kejadian ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas 2 SMU.

Waktu itu bulan Juli, lagi liburan sekolah. Waktu itu ortu dan adik perempuanku jalan-jalan ke jakarta, jadi rumahku tinggal aku sendiri akhirnya aku dititipkan dirumah tanteku (adik Mamaku). Mina, nama tanteku. Kalau nggak salah umur tanteku waktu itu 28, tanteku belum punya anak walaupun sudah kawin 1 tahun lebih. Jadi ketika aku ke sana dia senang sekali. Om-ku seorang pegawai swasta di Surabaya, tapi sering keluar kota untuk kerja proyek di sana.

"John, tolong jaga rumah dan tantemu ya, tantemu lagi sakit. Om besok ke jakarta, ada proyek penting yang harus dikerjakan"kata om-ku.
"Ya, om. Beres, tapi mana duitnya, hehe"Terus aku dikasih 100 ribu sama om-ku.

Keesokan harinya..

"John, ingat ya pesan om".

Pesan om-ku dan akhirnya dia berangkat menuju Jakarta. Sorenya aku nonton TV dengan tanteku. Waktu itu tanteku pake piyama yang tipis. Dada tanteku kutaksir 34B, jadi lumayan besar..

"Tante kan lagi sakit, kenapa nggak istirahat saja? Biar cepat sembuh".
"Nggak apa-apa. Kalau di kamar terus juga sama aja. Mendingan nonton TV bareng kamu disini"

Hehe, aku lihati terus tubuh tanteku yang sexy itu.. Dan pikiranku mulai ngeras, begitu juga adikku, sudah mulai bangun.. Aku langsung membayangkan kalau lagi bersetubuh dengan tanteku itu.. Tiba-tiba..

"Oi, lagi mikirin apa John, sampai bengong kayak gitu. Lagi lihat TV kok lihat-lihat tante terus".
"Habis tante cantik banget, terus sexy lagi, hehe"
"Bisa aja kamu. Nakal ya."
"benar kok. Tante memang cantik."Terus kami nonton TV lagi..
"Eh, sudah jam 7 lho, ayo makan malam. Sudah dibeliin ayam goreng. Tadi pesan di warung"
"Ayo tante.."aduh pikirku.. Padahal sedikit lagi..

Akhirnya kami makan malam bersaman.. Aku melihat tubuh tanteku terus.. Tidak konsentrasi untuk makan..

"Ayo, John. Dimakan ayamnya. Kok bengong. Minta disuapin ya?"
"Ah nggak tante bisa sendiri kok. Tapi kalau disuapin sih mau aja"
"Ayo cepat makan, dasar nakal"
"Atau tante mau disuapin sama John, tante kan lagi sakit"
"Ayo makan, jangan ngomong terus!" tanteku sepertinya marah..

Malamnya sekitar pukul 22.00.. Dari kamar tante terdengar suara panggilan.

"John. John.. Kesini sebentar"
"Ya tante, sebantar ya aku lagi telepon"
"Cepatan, John." habis telepon aku langsung menuju kamar tante.
"Tante, aku masuk ya?"
"Ya, pintunya tidak dikunci kok, masuk aja"

Aku langsung masuk kekamar tante. Kamrnya harum, bau parfum..

"Kamarnya harum tante. Pake apa?"
"Sini John. Dekat kesini."
"Tante. Ada apa? Tante sakit lagi ya?"
"Ya John. Kepela tante rasanya seperti mau pecah.."
"Saya ambilin obat ya tante? Tante nggak apa-apa kan? Atau mau ke dokter?".
"Nggak perlu John. Kamu kesini John".

Aku lalu mendekat ke tubuh tante yang berbaring di ranjang.

"Sini" Tante lalu memegang tanganku dan di taruhnya di kepalanya.
"Tolong John, urut kepalaku ya. Biar sakitnya berkurang.." kata tante dengan suara yang menggoda..

Dan tentu saja langsung kupenuhi permintaannya.. Pikiranku mulai berpikiran lagi untuk bersetubuh dengan tanteku. Aku duduk diranjang di bagian atas kepala tanteku dan mengurut kepalanya. Aku bisa melihat dada tanteku yang menyembul karena saat itu dia memakai piyama warna putih yang tipis..

Sambil mengurut kepalanya aku juga mengelus-elus rambut tanteku. Mataku tertuju ke dadanya yang sepertinya mulai mengeras karena terlihat puting susunya dari luar. Sepertinya tanteku tidak memakai BH.. Pikiranku sepertinya tidak bisa diajak berkompromi lagi..

"Tante, tante cantik banget".
"John tolong pijat kaki tante juga ya. Kok rasanya pegal"
"Ya tante" dan langsung kupijat betis tanteku..
"Kulit tante putih dan mulus ya" kataku.
"Hehe, ayo pijat terus John. Ayo lebih ke atas lagi, pijat paha tante."

Kupijat paha tante yang mulus dan putih itu. Mata tanteku terpejam, sepertinya kepalanya sudah tidak sakit lagi. Pikiran kotor ku muncul lagi. Ingin rasanya menikmati tubuh tanteku ini. Pijatan yang tadinya kulakukan sekarang berubah menjadi elusan pada paha tanteku.. Dan sepertinya tanteku sangat menikmati karena tanteku diam saja.

"Tante, gimana rasanya sekarang. Sudah baikan?"
"Terusin. Jangan hentikan pijatanmu.. Ayo John.."

Aku tahu tanteku pasti juga sudah mulai terangsang dilihat dari bahasa tubuhnya.. Aku tidak lagi memijat tapi kuelus terus pahanya.. Dan pelan-pelan kunaikkan tanganku dan kuselipkan ke celana tanteku.. Tidak ada reaksi sama sekali dari tanteku.
Inilah saatnya aku melakukannya.. pikirku dalam hati.. Kuelus-elus dengan lembut tubuh tanteku itu. Dan akhirnya kuberanikan diri untuk menyentuh celana dalam tenteku.. Dan ternyata celana dalamnya sudah basah.. Langsung saja kuelus vagina tanteku yang masih ditutupi CD itu.

"Ehmm, John, ayo teruskan.."

Aku coba untuk menyelipkan jariku ke dalam CD tanteku.. Dan kugesekkan jariku disana..

"Enakk John, ayo terus,"
"Tante, saya buka celana tante ya, biar lebih asyik.."
"Terserah kamu John, ayo cepat.."

Langsung saja kubuka celana tante.. Dan sekarang aku elus perut tante..

"Ya John, ouh.."

Kuremas dada tante yang masih memakai baju piyama..

"John, buka saja bajuku. Ayo lakukan sesukamu.."

Dan kubuka baju tante.. Dan langsung menyembullah 2 bukit indah yang belum pernah kulihat.. Kuremas payudara tante dengan kedua tanganku..

"Ouhh, enak John, teruskan.." desah tanteku..

Kuremas-remas terus dada tante yang putih halus itu..

"Ayo John lakukan sesukamu dengan dadaku.. Hisap John. Hisap susu tante.."

Kuturunkan wajahku ke dada tante dan kuhisap susu kirinya.. Dada yang kanannya kuremas terus.. Kugigit halus puting susunya..

"Ouhh," teriak tanteku, "Enak John, ayo hisap yang dalam"

Kuhisap susu tante sampai keluar cairan susunya..

"Susu tante enak. Aku suka susu tante.."

Kedua susu tante kuhisap dan kuremas-remas.. Kubuka seluruh pakaianku hingga kontolku keluar..

"Ohh.. Kontolmu gede John.. punya om-mu aja kalah. Diapain kontolmu".

Kontolku yang sudah nongol langgsung dielus sama tanteku..

"Adik manisku" kata tanteku sambil mengocok kontolku..
"Enak kan?"
"Oh enak banget tante.."

Kontolku dikocok terus oleh tanteku.. Aku tidak mau kalah langsung kubuka CD tanteku..

"Tante, vagina tante merah muda, aku suka sekali"

Akhirnya kami bermain dalam posisi 69. Vagina tante yang sudah basah langsung saja kujilat.. Sllrrpp.. ssllrrpp.. bunyi suara lidahku ketika menjilat vagina tanteku.. Tanteku juga tidak kalah gesitnya.. Kontolku yang sudah menegang itu dimasukin ke mulutnya.. Dan sejurus kemudian langsung dimainkan dengan lidahnya dan dihisap-hisap juga..

Kubuka vagina tanteku dengan jari telunjuk dan jempolku.. Lalu kutusuk-tusukkan lidahku di lubang memeknya.. Sambil sekali-kali kuhisap vagina tante yang baunya harum.. Sampai lebih kurang 10 menit kami dalam possisi 69, tiba-tiba kepalaku dijepit oleh kedua paha tante..

Aku tahu kalau tanteku sudah mencapai orgasme yang pertamanya.. Dari vagina tante keluar cairan warna putih dan langsung kujilat sampai bersih.. Tanteku masih sibuk dengan kontolku walaupun sudah mencapai orgasme..

Lalu..

"Tante, aku juga mau keluar"

Mendengar ucapanku hisapan tanteku pada kontolku semakin dipercepat. Dan.. Crroott.. croott.. Kumuncratkan 6 kali spermaku di mulut tanteku..

"Tante, jangan ditelan dulu spermanya.." pintaku..

Lalu kupegang kepala tante dan kulumat bibirnya yang masih penuh dengan cairan spermaku.. Dan tanteku bereaksi dengan cepat, akhirnya kami berbagi sperma. Kumainkan lidahku dalam mulut tante yang penuh sperma dan kuhisap spermanya, lalu kumuntahkan lagi ke mulut tanteku.. Tanteku juga melakukannya.. Sampai lebih kurang 5 menit. Kami lalu menelan sperma tersebut..

"Ayo John, masukin kontolmu ke vagina tante" pinta tanteku..

Kontolku memang masih tegang walaupun sudah sempat mengeluarkan sperma.. Kubuka paha tante lebar-lebar.. Sampai terlihat lubang memeknya yang masih basah itu.. Lalu kupegang kontolku dan kugesekkan kepala kontolku di mulut memeknya..

"Oh, John ayo masukan kontolmu.. Tubuhku ini milikmu John.. Ayo. Lakukan sesukamu.. Memekku ini milikmu John.. Ayo masukin.." racau tanteku..

Kudorong kontolku ke vagina tanteku yang sudah basah sekali.. Agak susah masuknya..

"Oughh.. Masukin yang dalam John.. Sampai kontolmu amblas.. Ayo John.."


Kutekan lagi kontolku. Sekarang kontolku sudah masuk 1/2 ke dalam vagina tanteku.. Kutarik sedikit kontolku dan aku menarik napasku.. Dan.. Bless.

"Aughh, John sakit.. Kontolmu gede banget" teriak tanteku..

Kontolku seperti dimakan oleh memeknya tante, amblas.. Kutarik pelan-pelan kontolku..

"John, aauugghh. Sakit. Pelen-pelan ya.."

Kutarik dan dorong dengan pelan kontolku yang berada dalam lubang kenikmatan tanteku..

"Tante, memeknya masih sakit?"
"Nggak John. Ughh. Nikmat. Ayo John lakukan sesukamu".

Kupercepat gerakan kontolku.. Tarikk dorongg.. Tarik.. Dorong..

"Oughh.. Shh.. John.. Oughh shh.." desah tanteku karena nikmat yang kuberikan. Kugenjot terus vagina tante yang semakin becek itu..
"Ouugghh enakk Johnn ayo genjot vagina tante.. Lagi John.. Ssshh"

Ku percepat gerakan maju mundur pantatku.. Payudara tante yang bergoyang turun naik seiring dengan genjotanku kuremas-remas.. Dan sekali-kali kupelintir putingnya..

"Auhgghh enak John.. Ayo genjot.. Terusshh"

Kontolku yang berada dalam vagina tante.. Kutarik sampai hampir keluar.. Lalu.. Kudorong pantatku kedepan sekuat tenaga..

"Aaaugghh enak John, ayo lakukan lagi.. Aku suka kontol kamu Johnsshshh"

Kulakukan terus dan kupercepat genjotanku. Sepertinya tanteku sudah hampir klimaks..

"Ayo John pompa memek tante secepat dan sekeras mungkin dengan kontolmu itu.. Ougghh"

Tanteku juga menggoyangkan pantatnya maju mundur sehingga terasa sekali denyut memeknya.

"John, tante mau keluar.. Ougghh shh tante nggak tahan lagi.."
"Kita sama-sama aja tante.."

Kupercepat genjotanku. Kupompa terus vagina tanteku ini.. Dann.. Tanteku memelukku dengan erat dan terasa semburan cairan kenikmatan bibi dalam memeknya..

Croott ccrroott ccrroott..

Aku juga menyemburkan spermaku dalam vagina tanteku.. Akhirnya kami lemass.. Kontolku yang masih berada dalam vagina tante.. Seperti dijepit.. Enek sekali denyutannya.. Aku juga membalas dengan membuat kontolku berdenyut..

"Hehe nakal ya kamu.."
"Tante juga"

Lalu kami berdua berciuman dan memainkan lidah.. Dan kucabut kontolku.. Terlihat cairan spermaku dan tanteku mengalir keluar dari memeknya.. Tanpa perintah langsung kujilati cairan yang membasahi vagina tanteku sampai bersih.. Dan kugigit halus bibir memeknya..

"Auhghh, kamu kok nakal banget sih.."
"Habis vagina tante enak sekali"

Kami lalu tertawa.. Tidak terasa kami main hampir 2 jam.

Malam itu kami tidur tanpa membersihkan diri lagi.. Bau cairan kenikmatan kami seperti memenuhi kamar tanteku.. Dan kami tidur tanpa busana.. Semalaman kami hampir tidak tidur karena kami terus saling mengelus-elus bagian tubuh kami..

"Aku cinta tante"
"Tante juga"..

*****
ReadmoreAku dan Tante Mina

Anit Solehah

Cerita Dewasa - Namaku Andi. Aku seorang pria dengan tinggi badan sekitar 170 cm dan berat badan 75 kg. Aku termasuk orang yang pemalu. Aku berasal dari keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama.Hampir semua saudara wanita sepupuku menggunakan jilbab, karena aku membaca cerita2 porno, gambar porno dan akhirnya berujung pada masturbasi. Aku punya kebiasaan ini semenjak aku mengenal internet karena pengaruh kawan-kawanku di kampus dulu.Kebiasaan jelek ini tidak bisa aku hilangkan meski aku sudah beristri sekalipun.

Dari sekian banyak cerita porno, aku paling terangsang ketika membaca cerita hubungan sedarah. Dan di saat sekarang, aku langsung teringat akan Anit. Aku jadi terobsesi ingin mempraktekkan apa yang ada di cerita-cerita tersebut pada diriku. Tapi apa daya, aku seorang pemalu, Anit juga seorang yang sangat sholehah, bahkan di hadapanku masih juga menjaga jaraknya. Aku memutar otak bagaimana caranya bisa dekat dengan Anit tapi tetap tak bisa sampai aku putus asa.

Sampai pada satu hari yang sangat tak diduga, aku sampai di rumah pada siang hari. Hal ini jarang terjadi karena aku biasanya pulang paling cepat jam 6 sore. Tapi hari itu, semua karyawan dipulangkan lebih awal. Aku sampai ke rumah sekitar pukul satu siang. Kuketuk berkali-kali pintu rumah, tak ada jawaban. Mungkin karena rumah kami sangat panjang hingga ketukan tak terdengar.

Akhirnya aku buka pintu, ternyata tidak dikunci. Kudengar suara televisi lumayan keras dan aku pun langsung menuju ke kamarku yang melewati ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku melihat sesosok tubuh wanita berpakaian sexy terhampar di hadapanku. Aku melihat Anit sedang tertidur di atas karpet dan Anit mengenakan daster tipis. Mungkin ia mengenakan itu karena hari yang sangat panas siang itu. Tangannya memegang remote yang hampir terlepas.

Dan yang paling indah, sebuah payudaranya nongol keluar karena dia lagi menyusui anaknya yang paling kecil. Dua anak yang lainnya sedang tertidur di kamar yang lain. Aku tercengang melihat kejadian tersebut. Saat-saat yang kuimpikan akhirnya terjadi juga. Aku bisa melihat wajahnya yang putih tanpa jilbab ditambah bonus sebuah payudaranya yang indah dengan ukuran sekitar 36B. Woww..indahnya. Aku terdiam sejenak di hadapannya. Dengan segenap keberanian aku dekatkan diriku menuju Anit.

Aku dengan malu malu mau menggerakkan tanganku menyentuh putingnya sedikit saja. Ternyata Anit sama sekali tak bergerak, mungkin saking lelap tidurnya. Akhirnya aku beranikan diri, aku angkat anaknya yang paling kecil dan kupindahkan ke kamar dengan hati-hati. Akhirnya tinggal Anit sendirian tertinggal di ruang tamu. Aku dekati tubuh Anit, kemudian aku ulangi sekali lagi perbuatanku dengan menyentuh putingnya. Kumainkan putingnya dan lama-lama putingnya tegak berdiri.

Aku yang pemalu tapi lebih tak tahan lagi menahan napsuku, akhirnya aku beranikan mulutku menyusui putingnya yang sudah menegang. Ohhh nikmatnya puting susu Anit...ada ASInya lagi. Ohhh..enak banget. Suara desahan pun terdengar sedikit-sedikit, aku perhatikan wajah Anit, ternyata matanya masih tertutup rapat. Aku makin menggila, kubuka semua pakaianku sehingga aku sekarang telanjang. Aku dekati lagi Anit dan kubuka perlahan lahan daster tipisnya.

Sekarang keadaan sudah seimbang. Anit dan aku sudah sama sama tidak berpakaian. Aku yang pemalu sepertinya sudah hilang kemaluanku, tapi "kemaluanku" yang lain justru tambah membesar menyaksikan tubuh polos yang sudah lama kuidam-idamkan. Anit masih tertidur dengan pulasnya. Aku dekati lagi wilayah yang cukup lebat untuk area Miss-V nya. Meskipun lebat, tetapi bulunya tipis2. Aku sangat suka sekali dengan bulu2 ini.Kujilati vaginanya, kucari klitorisnya..oh enak banget..asin2 seperti punya istriku.

Semakin lama kusedot-sedot vaginanya, tubuh Anit makin mengelinjang-gelinjang. Akupun semakin bersemangat, aku mainkan juga kedua payudaranya sambil terus menyedot-nyedot vaginanya.Semakin lama tubuh Anit semakin bergerak tak beraturan dan akhirnya vaginanya mengeluarkan cairan2 bening yang cukup banyak. Terdengar suara lenguhan kecil olehku, sepertinya Anit sudah mencapai orgasmenya yang pertama. Kulihat lagi wajah Anit, dadanya turun naik seperti telah mandaki gunung yang tinggi.

Pelan-pelan matanya terbuka dan alangkah kagetnya dia melihat seorang lelaki di hadapannya tanpa memakai busana sehelai pun. Dan yang lebih mengagetkannya ternyata lelaki di hadapannya adalah adik iparnya sendiri yaitu aku. Seperti langsung tersadar, dia menjerit tak terlalu keras kepadaku. "Andi, teganya kamu berbuat itu kepada kakak!". Anit langsung pergi berlari menuju ke kamar anak-anaknya yang sedang tertidur. Aku pun melongo seperti kehilangan akal. Pikiranku pun mulai kembali normal. Yah kepalaku langsung pusing memikirkan apa yang barusan terjadi. Aku takut sekali kalau Anit melaporkan apa yang terjadi barusan apalagi melaporkannya kepada istriku yang sangat pencemburu berat.

Aku terdiam beberapa saat dan pelan-pelan kukenakan kembali pakaianku dan menuju ke kamarku. Di dalam kamar, aku tidak bisa tenang. AKu bingung bagaimana berhadapan dengan Anit lagi.Akhirnya aku membulatkan tekad untuk menuju ke kamarnya. Aku akan meminta maaf. Sambil kubawa segelas air putih menuju kamarnya.
AKu ketuk pintu kamar Anit. "Kak, bisa bicara sebentar. Aku mohon maaf atas kejadian tadi, aku khilaf Kak.".
Tidak ada jawaban dari kamarnya untuk sejenak. Kembali aku berucap kepada Anit. "Kak, sekali lagi aku mohon maaf atas kekhilafanku tadi. Entah setan mana yang menggodaku tadi."

Akhirnya kudengar sahutan dalam kamar walaupun sangat pelan.
"Kakak akan memaafkan dengan satu syarat" terdengar suara serak Anit.
"Iya Kak, apapun syaratnya akan kupenuhi asal Kak Anit memaafkan aku. Tapi please keluar sebentar, aku ingin berbicara langsung dengan Kakak disini untuk menunjukkan penyesalanku."
Terdengar suara pintu kamar terbuka, kulihat Anit sudah berpakaian lengkap seperti biasa dengan jilbab besarnya.
"Tega kamu Andi, kenapa kamu melakukan ini kepada Kakak. Kamu kan tahu Kakak sudah punya suami dan yang penting Kak Anit adalah kakak istri kamu. Apa kamu tidak kasihan kepada istri kamu, kepada suami kakak dan kepada kakak sendiri?" pertanyaan Anit mencecar bertubi-tubi datang kepadaku.

"Iya Kak, aku sekali lagi menyesal,maafkan kelakuan bodohku tadi.Sekarang aku mau tanya. Apa syarat kakak Anit tadi?" aku mengajukan pertanyaan kepada Anit. Anit masih terpaku seakan masih tidak percaya hal yang barusan terjadi kepadanya. "Satu syarat yang ingin kakak ajukan adalah jangan kamu ceritakan hal yang terjadi barusan!"
Seperti mendapat durian runtuh, syarat itu memang sangat mudah kulakukan karena siapa yang mau menceritakan aibnya kepada keluarga apalagi istriku.

"Pasti Kak, itu akan kulakukan. Terjun dari gunung pun akan aku lakukan demi menebus dosa aku tadi. Sekarang Kak Anit sudah tenang Kan?". Anit pun sepertinya masih shock dengan kejadian tadi. Aku pun lalu menyodorkan segelas air putih yang kubawa tadi untuk menenangkan Anit. "Minumlah Kak, supaya Kakak tenang. Anggap ini permohonan maaf sekali lagi dari aku". Anit pun menerima segelas air putih yang kusodorkan dan meminumnya seperti kehausan sekali. Sekilas senyum muncul di bibirku karena ternyata rencanaku sebenarnya bukan untuk menenangkannya, tetapi melanjutkan kenikmatan yang tertunda.

Tanpa Anit sadari, segelas air putih itu sudah aku taburkan obat perangsang. Aku pun dengan cepat memohon diri kepada Anit untuk kembali ke kamarku dengan alasan ingin mandi dan tidur. Aku berjalan dengan perasaan sudah menang. Aku yakin sekali tidak lama lagi Anit akan gelisah dan mencari pelampiasan. Ya siapa lagi kalau bukan aku..hahahah. Di kamar, aku buka bajuku kembali dan menuju kamar mandi bertelanjang bulat.

Kenikmatan yang tertunda tadi aku teruskan di kamar mandi dengan bermasturbasi. Sengaja aku buka pintu kamarku dan kamar mandiku dengan harapan Anit datang ke kamarku dan mendapati aku sedang bertelanjang. Dengan khayalan yang belum menjadi kenyataan, aku bermasturbasi mengkhayalkan kembali tubuh Anit yang sexy yang baru kurasakan hanya sejenak. Tepat seperti dugaanku, samar-samar kulihat sesosok tubuh berjilbab mendekati kamarku.
Seperti salah tingkah, Anit memanggil-manggil namaku.
"Andi, keluar sebentar, ada yang mau kakak bicarakan lagi.". Aku sebetulnya mendengar apa yang Anit bicarakan, tapi aku ingin memancing Anit seperti rencanaku.
"Masuk lah Kak ke kamar, pintunya kan terbuka, tanggung aku lagi mandi" jawabku.


Anit pun masuk ke kamarku yang terbuka dan ia semakin gelisah mendapatiku sedang bertelanjang bulat di kamar mandi. Aku yang sudah merencanakan hal ini langsung pura-pura keluar dari kamar mandi dengan sabun yang banyak menyelimuti badanku terutama kontolku yang sudah kukocok-kocok dari tadi. Anit terhentak sejenak dan menjerit, tetapi tidak seperti jeritan sebelumnya, tapi sedikit terdengar suara jeritan yang genit.
"Maaf ya Kak, aku begini, apa yang mau kakak bicarakan?". Anit yang salah tingkah akhirnya mendekatiku dengan malu-malu tetapi terlihat obat perangsang yang sepertinya sudah sangat bekerja dengan baik.
"Ini lho Andi, air di wc kakak kecil airnya, boleh kakak numpang mandi disini?' Hahaha..dengan tanpa malu-malu lagi menatapku, Anit melontarkan permintaannya dan memang itu yang kuharapkan.
"Ooo gitu Kak, sekalian saja mandi bareng ya Kak, aku juga kan lagi mandi seperti yang Kakak lihat" itulah jawaban beraniku sambil terus memainkan burungku yang cukup besar ini.

Seperti tidak sabar, akhirnya Anit melepaskan semua pakaiannya dan bertelanjang bulat dan akhirnya masuk ke kamar mandi. Aku sangat girang sekali mendapatinya dalam keadaan ini. Akhirnya ia pun mandi dan tanpa menunggu aku pun membantunya mandi dengan mengusapkan sabun yang ada di tanganku.
"Ini Kak, aku bantu sabuni yah, biar bersih" Anit tidak menjawab, ia hanya menikmati saja apa yang terjadi.

Akhirnya aku sentuh badannya, aku sabuni perutnya, payudaranya yang montok dan vaginanya yang halus. Anit hanya mendesah-desah mendapatkan perlakuan seperti itu. Aku pun semakin menjadi, kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan respon dari Anit pun semakin menjadi. Tubuhnya menggelinjang menggila. AKu pun sudah tak tahan. Kubaringkan ia di Bath Tub, kubuka lebar kakinya. Dan seperti sudah tidak tahan, Anit pun turut membantu melebarkan kakinya.

Akhirnya saat yang dinanti pun tiba. Kugesek-gesek penisku di lubang vaginanya, anit makin tak tahan.
"Masukkan aja cepat Andi, Kakak sudah gak tahan!"
"Pasti Kak..Kakak cantik sekali seperti bidadari Kak..aku suka ama Kakak..apalagi ternyata memek kakak masih sempit"
Oooooh..kumasukkan sedikit-sedikit kontolku yang menegang dan akhirnya masuk juga menerobos memeknya Anit.
"OOOOooooh..Andi..terus ..Andi..ayo cepat..aahhhh.."
Kupacu semakin cepat gerakanku berirama dan Anit pun mengikuti gerakanku dan akhirnya akan sampai juga pada puncak kenikmatan.
"Ooooh..Andi Kakak mau keluar..oohhh..." ceracau Anit.
"Andi juga mau nyampe kak..dikeluarin dalem atau di luar Kak...Ooooohhh?"
"Teruss Andi goyang Andi..dalem aja biar nikmat..ohhhhh..terus"

Dan akhirnya Anit pun mengejang keras sekali mencapai puncak kenikmatan. Tubuhnya mengejang sejenak terdiam dan kontolku merasakan sekali sensasi ini. Memeknya mengurut-urut keras kontolku yang juga akan menyemburkan lahar panasnya. "Oooh..Andi..Kakak nyampe...ohhh..ayo keluarin aja di dalam.."
Aku pun terus berpacu dan akhirnya keluarlah peluru-peluru pamungkasku di dalam memeknya yang sempit ini. Sekali lagi tubuh Anit tergetar hebat bersamaan dengan badanku yang mengejang hebat merasakan sensasi ini. Akhirnya kami pun terdampar lemas di Bath tub sejarah percintaan kami.

Setelah beberapa saat, kami pun lanjutkan di atas kasur dengan berbagai gaya dan cara. Saat itu adalah saat yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan dalam hidupku. Bisa-bisanya aku yang cukup alim (di pandangan keluargaku) bermain sex dengan Anit yang justru berjilbab besar.

Akhirnya waktu berlalu. Kejadian aku dengan Anit pun hanya menjadi rahasia kami berdua. Anit sepertinya menyesal telah melakukan hal tersebut, karena terlihat ia sering menghindariku saat berdua. Mungkin ia sadar kalau ia melakukan sex denganku dalam keadaan minum obat perangsang alias ia tidak sadar. Dan akhirnya peristiwa itupun hanya jadi kenangan kami berdua saja. Aku barharap kejadian seperti ini bisa berulang walau aku tak tahu kapan hal seperti ini terjadi lagi.

* TAMAT *
ReadmoreAnit Solehah

Windi, Teman Adikku

Cerita Dewasa - Pertama kali aku mengenal hubungan sexual yang sebenarnya terjadi pada saat adik perempuanku memperkenalkan kepadaku seorang teman wanitanya. Sejak pertama kali aku melihat, memang aku sangat tertarik pada wanita ini, sebut saja namanya Windi. Suatu saat Windi datang ke rumahku untuk bertemu dengan adikku yang kebetulan tidak berada di rumah. Karena sudah akrab dengan keluargaku, meskipun di rumah aku sedang seorang diri, kupersilakan Windi masuk dan menunggu.

Tapi tiba-tiba ada pikiran nakal di otakku untuk nekat mendekati Windi, meskipun rasanya sangat tidak mungkin. Setelah berbasa-basi seperlunya, kutawarkan dia untuk kuputarkan Blue Film. Mulanya dia menolak karena malu, tapi penolakannya kupikir hanya basa-basi saja. Dengan sedikit ketakutan akan datangnya orang lain ke rumahku, aku putarkan sebuah blue film, lalu kutinggalkan dia menonton seorang diri dengan suatu harapan dia akan terangsang. Benar saja pada saat aku keluar dari kamar, kulihat wajah Windi merah dan seperti menahan getaran. Aku mulai ikut duduk di lantai dan menonton blue film tersebut. Jantungku berdegup sangat keras, bukan karena menonton film tersebut, tapi karena aku sudah mulai nekat untuk melakukannya, apapun resikonya kalau ditolak.

Kubilang pada Windi, “Pegang dadaku.., rasanya deg-degan banget”, sambil kutarik tangannya untuk memegang dadaku. Dalam hitungan detik, tanpa kami sadari, kami telah berciuman dengan penuh nafsu. Ini pengalaman pertamaku berciuman dengan seorang perempuan, meskipun adegan seks telah lama aku tahu (dan kuinginkan) dari berbagai film yang pernah kutonton. Mulutnya yang kecil kukulum dengan penuh nafsu.

Dengan penuh rasa takut, tanganku mulai merayap ke bagian dadanya. Ternyata Windi tidak marah, malah kelihatan dia sangat menikmatinya. Akhirnya kuremas-remas buah dadanya dengan lembut dan sedikit menekan. Tanpa terasa kami sudah telanjang bulat berdua di tengah rumah. Setelah puas aku mengulum puting susu dan meremas-remas buah dadanya, mulutku kembali ke atas untuk mencium dan mengulum lidahnya. Sebentar kemudian malah Windi yang turun menciumi leher kemudian dadaku. Tapi sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan dilakukan seorang Windi yang usianya relatif masih sangat muda, ia terus turun menciumi perut sambil mulai meremas-remas kemaluanku. Aku sudah sangat terangsang.

Kemudian mataku hampir saja keluar ketika mulutnya sampai pada batang kemaluanku. Rasanya nikmat sekali. Belum pernah aku merasakan kenikmatan yang sedemikian dahsyat. Ujung kemaluanku kemudian dikulum dengan penuh nafsu. Nampak luwes sekali dia menciumi kemaluanku, aku tidak berpikir lain selain terus menikmati hangatnya mulut Windi di kemaluanku. Kupegang rambutnya mengikuti turun naik dan memutarnya kepala Windi dengan poros batang kemaluanku.

Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutahan lagi. Kutahan kepalanya agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku tetes demi tetes.

Aku tertidur pulas tanpa ingat lagi bumi alam. Kurang lebih sepuluh menit kemudian aku terbangun. Aku sangat kaget begitu kulihat tepat dimukaku ternyata kemaluan Windi. Rupanya pada saat aku tertidur, Windi terus menjilati kemaluanku sambil menggesek-gesekan kemaluannya pada mulutku. Meskipun awalnya aku takut untuk mencoba menjilati kemaluannya, tapi karena akupun terangsang lagi, maka kulumat kemaluannya dengan penuh nafsu. Aku segera terangsang kembali karena pada saat aku menciumi kemaluan Windi, dia dengan ganas mencium dan menyedot kemaluanku dengan kerasnya. Aku juga kadang merasakan Windi menggigit kemaluanku dengan keras sekali, sampai aku khawatir kemaluanku terpotong karenanya.


Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras. Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya supaya aku tidak memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Windi. Aku tidak mampu menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya.

Karena aku sudah tidak bernafsu lagi, kujilati kemaluannya sambil berhitung untuk supaya aku terus mampu menjilati dalam keadaan tidak bernafsu sama sekali. Pada hitungan ke 143 lidahku menjilati kemaluannya (terakhir clitorisnya), dia mengerang dan menekan kepalaku dengan keras dan menjerit. Dia langsung tertidur sampai aku merasa ketakutan kalau-kalau ada orang datang. Kugendong Windi ke tempat adikku dalam keadaan tertidur dan kupakaikan baju, lalu kututup selimut, lantas aku pergi ke rumah temanku untuk menghindari kecurigaan keluargaku. Inilah pengalaman pertamaku yang tak akan pernah aku lupakan. Aku tidak yakin apakah akan kualami kenikmatan ini lagi dalam hidupku.

* TAMAT *
ReadmoreWindi, Teman Adikku